Angga Putra Pratama: Perlu Dialog Terbuka Terkait Konser Andrea Bocelli Untuk Menjaga Keseimbangan Diplomasi Budaya dan Industri Kreatif Serta Tetap Menjaga Solidaritas Terhadap Palestina


Angga Putra Pratama:
Perlu Dialog Terbuka Terkait Konser Andrea Bocelli Untuk Menjaga Keseimbangan Diplomasi Budaya dan Industri Kreatif Serta Tetap Menjaga Solidaritas Terhadap Palestina 

Jakarta, Kabardesanews.com - Polemik rencana konser Andrea Bocelli di Indonesia seharusnya tidak membuat ruang bagi pertunjukan seni internasional semakin menyempit. Sebaliknya, momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat diplomasi budaya, mendorong pertumbuhan industri kreatif, serta menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang terbuka terhadap pertukaran kebudayaan dunia.

Untuk polemik ini, kabardesanews.com berbagi ruang untuk berbagai pendapat dari para aktivis berbagai kalangan. pada Selasa (27/10/2026).

Angga Putra Pratama, Wasekjen Bidang Hukum, Pertahanan dan Keamanan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), angkat bicara ,menilai penyelenggaraan konser internasional seperti Andrea Bocelli patut dipandang sebagai peluang strategis bagi Indonesia. Menurutnya, selama memenuhi ketentuan hukum dan persyaratan penyelenggaraan yang berlaku, kegiatan tersebut semestinya mendapatkan ruang untuk terlaksana.

“Menurut saya, konser Andrea Bocelli seharusnya bisa menjadi momentum positif bagi Indonesia. Kita perlu melihatnya bukan semata-mata sebagai pertunjukan musik, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat diplomasi budaya, menggerakkan industri kreatif, dan membuka ruang kolaborasi internasional. Indonesia harus mampu menjadi tuan rumah yang baik bagi pertunjukan kelas dunia

" Dukungan terhadap penyelenggaraan konser tidak berarti mengesampingkan persoalan kemanusiaan, termasuk solidaritas terhadap rakyat Palestina. Namun, menurutnya, isu kemanusiaan, diplomasi budaya, dan pengembangan industri kreatif perlu dibicarakan secara jernih tanpa terburu-buru menempatkan satu kepentingan sebagai alasan untuk menutup ruang bagi kepentingan lainnya.

“Solidaritas terhadap Palestina harus tetap menjadi komitmen moral dan politik Indonesia karena itu merupakan harga mati sesuai konstitusi. Tetapi, pada saat yang sama, kita juga perlu membangun industri kreatif yang kuat dan diplomasi budaya yang efektif. Keduanya tidak harus dipertentangkan. Yang diperlukan adalah cara pandang yang proporsional, kebijakan yang jelas, serta pelaksanaan yang bertanggung jawab,” tegasnya.

Konser Internasional Bukan Sekadar Hiburan

Angga menjelaskan, pertunjukan musik berskala internasional memiliki potensi ekonomi yang melampaui penjualan tiket. Penyelenggaraannya dapat menggerakkan berbagai sektor, mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, pariwisata, jasa produksi, tata panggung, pencahayaan, tata suara, hingga tenaga kerja profesional di bidang kreatif.

Rantai ekonomi tersebut, menurutnya, perlu menjadi pertimbangan penting dalam melihat manfaat penyelenggaraan konser Andrea Bocelli. Indonesia memiliki banyak pekerja kreatif dan pelaku usaha yang dapat memperoleh kesempatan melalui penyelenggaraan acara berskala besar, asalkan ekosistem pendukungnya dirancang secara inklusif.

“Jangan melihat konser internasional hanya dari apa yang berlangsung di atas panggung. Ada pekerja kreatif, penyedia jasa, pelaku UMKM, sektor pariwisata, dan berbagai usaha pendukung yang berpotensi mendapatkan manfaat. Pertunjukan kelas dunia dapat menjadi penggerak ekonomi apabila dikelola dengan baik dan memberikan dampak nyata bagi ekosistem lokal,” katanya.

Ia menambahkan, Indonesia membutuhkan kepastian kebijakan agar promotor, investor, seniman, dan pelaku industri kreatif memiliki kepercayaan untuk menyelenggarakan kegiatan berskala internasional. Kepastian tersebut penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi industri hiburan global, tetapi juga berkembang sebagai pusat pertunjukan, produksi, dan kolaborasi kreatif di kawasan.

Diplomasi Budaya Harus Berjalan Dua Arah

Dari perspektif hubungan internasional, Angga menilai kehadiran seniman kelas dunia dapat menjadi salah satu instrumen diplomasi budaya. Pertemuan melalui seni dan musik membuka ruang interaksi antarmasyarakat, memperluas jejaring lintas negara, serta memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang mampu menyelenggarakan kegiatan internasional secara profesional.

Namun, ia mengingatkan bahwa diplomasi budaya tidak boleh berhenti pada mendatangkan artis mancanegara. Indonesia juga harus mampu memperkenalkan musisi, seniman, tradisi, dan produk kebudayaannya kepada publik internasional melalui kerja sama yang berkelanjutan.

“Kalau kita ingin kebudayaan Indonesia dikenal dunia, kita juga harus membangun keberanian untuk terlibat dalam pertukaran budaya internasional. Kita bisa menyambut seniman dunia sekaligus memperluas panggung bagi seniman Indonesia. Inilah diplomasi budaya yang sehat: saling mengenal, saling menghargai, dan sama-sama memperoleh manfaat,” jelas Angga.

Menurutnya, konser Andrea Bocelli dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem tersebut. Pemerintah dan penyelenggara dapat memanfaatkan momentum ini untuk mendorong keterlibatan pekerja kreatif lokal, memperluas promosi kebudayaan Indonesia, serta membuka peluang kolaborasi dengan pelaku industri dari berbagai negara.

Dukungan terhadap Konser Harus Diikuti Tata Kelola yang Baik

Menanggapi berbagai pandangan yang berkembang di masyarakat, Angga menekankan pentingnya dialog yang terbuka dan penghormatan terhadap perbedaan pendapat. Ia menilai kritik publik perlu didengar, tetapi keputusan mengenai penyelenggaraan kegiatan juga harus didasarkan pada ketentuan hukum, kewenangan otoritas terkait, dan pertimbangan kepentingan nasional secara menyeluruh.

Menurutnya, pendekatan yang diperlukan bukan memperbesar pertentangan, melainkan memastikan kegiatan internasional dapat diselenggarakan secara tertib, profesional, dan bertanggung jawab.

“Pada prinsipnya, saya melihat konser ini sebagai peluang yang patut didukung untuk terlaksana. Kita tidak seharusnya kehilangan kesempatan memperkuat industri kreatif dan diplomasi budaya hanya karena perdebatan yang belum ditempatkan dalam kerangka kebijakan yang proporsional. Aspirasi masyarakat tetap perlu dihormati, tetapi peluang bagi kemajuan industri kreatif nasional juga harus diperhitungkan secara serius,” ungkapnya.

Angga berharap polemik tersebut menjadi momentum bagi pemerintah, penyelenggara, pelaku industri kreatif, dan masyarakat untuk membangun pendekatan yang lebih dewasa dalam menyikapi pertunjukan internasional.

“Indonesia harus percaya diri menjadi bagian dari pergaulan budaya dunia. Kita dapat menjaga prinsip kemanusiaan, menghormati aspirasi masyarakat, sekaligus mendukung terselenggaranya konser internasional yang membawa manfaat. Jangan sampai kita hanya sibuk memperdebatkan sebuah pertunjukan, sementara peluang ekonomi, jejaring internasional, dan penguatan industri kreatif yang bisa dihasilkan justru terabaikan,” tutupnya.

Bagi Angga, keberhasilan diplomasi budaya tidak hanya diukur dari terselenggaranya sebuah konser, tetapi juga dari kemampuan Indonesia memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun kepercayaan internasional, memperkuat industri kreatif, dan memperluas kesempatan bagi karya anak bangsa untuk tampil di panggung dunia.

Sumber Angga Putra Pratama
Wasekjen Bidang Hukum, Pertahanan dan Keamanan PB HMI

**(Yc)**

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama