Rajaban di Pelosok Karangnunggal: Doa, Harapan, dan Jalan Yang Masih Terjal Segera Diperbaiki

Rajaban di Pelosok Karangnunggal: Doa, Harapan, dan Jalan yang Masih Terjal

Kabupaten Tasikmalaya, ( kabardesanews.com) - 
Sabtu, 17 Januari 2025 / 29 Rajab 1447 H, 
Alhamdulillah peringatan Rajaban di Pondok Pesantren Nurul Ihsan berlangsung lancar, khidmat, dan cukup meriah di bawah Pimpinan Kiyai A Ridwan Al Alawi. Acara keagamaan yang sarat makna ini digelar di Desa Cibatuireng, Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, dan dihadiri ratusan mustami dari berbagai pelosok kampung, bahkan dari luar daerah.

Sebagian besar jama'ah hadir karena memiliki anak yang mondok dan menempuh pendidikan di Yayasan Nurul Ihsan, yang menaungi SMP IT Nurul Ihsan Babakan Baru. Kehadiran para orang tua murid menjadi bukti kuat bahwa pesantren ini telah menjadi titik harapan pendidikan bagi masyarakat desa dan sekitarnya.

Turut hadir dalam acara tersebut unsur Muspika, Ketua BAZNAS , Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya Edi R Rahmatullah, Dewan perwakilan rakyat dari praksi Golkar Asep Saepuloh serta Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin (CNY). Kehadiran para pejabat ini menambah bobot acara, sekaligus membuka ruang dialog antara masyarakat akar rumput dan para pemangku kebijakan.

Pesan spritual dan aspirasi nyata selain menyampaikan pesan inti tentang hakikat Rajaban sebagai momentum penyucian diri dan peningkatan kesadaran spiritual, para sesepuh pendiri pondok pesantren dan yayasan juga menyelipkan harapan besar, "perhatian serius pemerintah daerah terhadap akses infrastruktur jalan menuju kawasan pendidikan tersebut".

Kondisi jalan yang belum memadai dinilai menjadi hambatan utama bagi aktivitas pendidikan, khususnya bagi anak-anak sekolah. Padahal, saat ini Yayasan Nurul Ihsan telah membina sekitar 100 siswa, meski dengan keterbatasan sarana—bahkan belum memiliki bangunan sekolah permanen.

“Tidak semua orang tua berani dan mampu menyekolahkan anaknya ke pusat kota. Sekolah berbasis pesantren di kampung adalah solusi, tapi jangan dibiarkan berjalan tertatih,” ungkap salah satu tokoh masyarakat setempat.

Sorotan Bupati: Kepala Desa Tak Hadir
Dalam sambutannya, Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin sempat menyayangkan ketidakhadiran Kepala Desa Cibatuireng di tengah pembahasan penting terkait anggaran dan keterkaitannya dengan kegiatan Rajaban tersebut, meskipun pada ± 20 menit terakhir muncul dengan selonong boy naik ke panggung padahal sedang pidato, dan hal ini miris sekali di nilai kurang attitude. Hal ini menjadi catatan tersendiri, mengingat peran kepala desa sangat strategis dalam mengawal aspirasi warganya.

Harapan masyarakat sederhana namun mendasar: suara mereka sampai dan didengar, bukan hanya tercatat dalam acara seremonial.

Rajaban: Rem Spiritual dan Cermin Sosial
Rajaban sendiri merupakan tradisi keagamaan Islam yang hidup kuat di masyarakat Nusantara, khususnya di tanah Jawa dan Sunda. Ia menandai masuknya bulan Rajab—salah satu dari empat bulan mulia dalam Islam—yang sarat dengan ajakan untuk taubat, refleksi diri, dan penguatan nilai moral.

Rajab adalah “rem spiritual”:
bukan sekadar ritual, melainkan pengingat arah hidup.
Bulan pemanasan sebelum Ramadan—membersihkan niat, menata batin, dan menajamkan kepedulian sosial.
Seperti diketuk pelan oleh Tuhan, Rajab mengajukan pertanyaan sunyi:
kita membuka pintu, atau pura-pura tak mendengar?
Acara Rajaban di Ponpes Nurul Ihsan bukan hanya tentang doa dan shalawat, tetapi juga tentang harapan akan keadilan pembangunan—agar pendidikan di pelosok tidak terus berjalan di jalan yang terjal.

**(Eddy R. Kusumah, S.H)**

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama