Secangkir Kopi, Sepenuh Hati: Kedai Rai Raka Karangnunggal Bertahan dengan Rasa dan Doa.
Tasikmalaya Selatan, (kabardesanews.com) - Di tengah ketatnya persaingan usaha kedai kopi di Tasikmalaya Selatan, sebuah kedai kopi di Desa Karangnunggal, Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, justru tetap konsisten bertahan dan ramai dikunjungi hingga hari ini. Kedai tersebut adalah Kedai Kopi Rai Raka, ruang sederhana yang sejak awal tak hanya menjual kopi, tetapi juga menghadirkan pengalaman batin yang menyenangkan bagi para penikmatnya.
Berlokasi strategis di jalur Tasik Selatan, Kedai Rai Raka dikenal dengan suasananya yang aman, nyaman, dan temaram. Tempat ini kerap menjadi persinggahan para pelancong, baik warga lokal maupun tamu dari luar daerah yang hendak menuju wisata religi Pamijahan atau destinasi pantai di Tasikmalaya Selatan. Tak sedikit pengunjung yang akhirnya betah berlama-lama—ngopi, ngobrol, berdiskusi, hingga menikmati hiburan karaoke gratis yang sesekali digelar. Selasa (03/02/2026).
Bermula dari Ruang Kreativitas
Kedai Rai Raka berdiri sejak Juni 2016, digagas oleh A. Ujang Rukman, owner sekaligus barista. Sejak awal, kedai ini tidak semata dibangun sebagai unit usaha komersial. Lebih dari itu, A. Ujang memiliki visi menjadikan Rai Raka sebagai ruang bersama—wadah kreativitas bagi anak-anak fotografer Tasikmalaya Selatan, pelukis, musisi, seniman, serta para pecinta musik lintas genre.
Pada masa awal berdirinya, kedai ini sempat mengalami masa keemasan. Ramainya pengunjung bahkan menarik perhatian perusahaan besar yang sempat melirik Rai Raka sebagai mitra promosi dan barter kerja sama. Meski kini banyak kedai serupa tumbang oleh persaingan, Rai Raka tetap berjalan stabil dan setia dengan identitasnya.
Rahasia di Balik Rasa
Dari hasil konfirmasi langsung dengan pemilik, terungkap bahwa rahasia utama mengapa pengunjung terus kembali bukan hanya terletak pada kualitas bahan kopi atau teknik penyajiannya. A. Ujang dikenal memahami betul proses meramu, memasak, hingga menyajikan kopi secara optimal. Namun ada satu elemen yang jarang dibicarakan di dunia usaha: ikhtiar batin.
Dalam setiap proses penyeduhan, A. Ujang selalu menyertakan doa dan niat dalam hati—agar kopi yang disajikan aman, nikmat, membawa manfaat, serta maslahat bagi siapa pun yang meminumnya. Baginya, kopi bukan sekadar minuman, melainkan medium energi dan niat baik.
Sesungguhnya apa yang datang dari hati, akan sampai ke hati,” ujar A. Ujang.
Spiritualitas dalam Secangkir Kopi.
Pendekatan ini selaras dengan konsep energi, vibrasi, dan frekuensi yang pernah diungkap oleh Nikola Tesla, bahwa hakikat kehidupan tak hanya bertumpu pada ikhtiar lahir, tetapi juga ikhtiar batin. Nilai tersebut juga sejalan dengan ajaran spiritual leluhur Nusantara yang meyakini bahwa Tuhan lebih melihat dan mendengar doa yang lahir dari hati yang hadir penuh, bukan sekadar ucapan lisan tanpa kesadaran.
Kesaksian ini diperkuat oleh sejumlah pengunjung. Seorang mahasiswa alumni Mesir yang sempat tinggal dua tahun di sana yaitu Kyai muda Irfan yang berpendidikan S2 pun sama memberikan testimoni yang luar biasa, serta seorang pengusaha jasa konstruksi bernama Alex, Eky alias Fiqri pelaku usaha di bidang jual beli handphone dan sekaligus jasa perbaikan HpP( Dapur service Mitra Cell ), + Kang Mulyadi sebagai pengusaha lokal yang menjadi pelanggan setia dan cukup lama dari Kecamatan Cipatujah serta Nova dan Desi Amanda Cute dua orang guru cantik, berani memberikan testimoni jujur tanpa tendensi..dan atensi atau request dari pihak manapun, melainkan Keduanya menyebut kopi Rai Raka bukan sekedar kopi biasa—rasanya khas, mampu memberi kebugaran, menyegarkan tubuh, dan seolah menjadi “recharge” saat pikiran suntuk dan inspirasi mengering.
Lebih dari Sekadar Kedai Kopi.
Kedai Kopi Rai Raka hari ini berdiri sebagai bukti bahwa konsistensi, kejujuran rasa, dan kehadiran hati mampu melampaui tren dan persaingan. Di tengah gempuran modernisasi, Rai Raka memilih setia pada akar: kopi, manusia, alam, dan Tuhan.
Dan mungkin, di sanalah letak kekuatannya.
(Eddy R. Kusumah, S.H)