Diduga Gagal Operasi Di RS Ternama Kota Tasik, Pasien Autis Meninggal Dunia Setelah Dilarikan Ke RS Bandung

Diduga Gagal Operasi Di RS Ternama Kota Tasik, Pasien Autis Meninggal Dunia Setelah Dilarikan Ke RS Bandung

Kota.Tasik (kabardesanews.com) - Diduga gagal operasi di rumah sakit swasta ternama di Kota Tasikmalaya, seorang pasien autis bernama Rizki Ramadhan Saputra (18), salah satu warga perumahan Sambong Permai RT 01/06 Kelurahan Sambongjaya Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya, meningal dunia setelah dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, korban meninggal setelah menjalani operasi di RS Tasikmalaya.

Bermula dari pengakuan ibu korban bernama Elsya, bahwa anaknya mengalami pecah di bagian perut bekas jahitan, setelah menjalani operasi Di Rumah Sakit Sawasta di Kota Tasikmalaya, anak saya menjalani operasi oleh salah satu dokter di RS tersebut. Namun setelah menjalani operasi diduga ususnya ada kebocoran.

Anak saya memang mempunyai kelainan khusus ( Autis ),namun sebelumnya mengalami panas tinggi, lalu pihak keluarga langsung membawanya berobat ke rumah sakit swasta, bermaksud untuk segera ditangani oleh tim medis, namun setelah di rawat inap selama lima hari ternyata, anak saya tidak kunjung sembuh, ucap Elsya saat ditemui di ruangan rawat inap dilantai 5 no 530,Rabu/07/02/2024. 

Menurut Elsya, korban (anaknya) sebelumnya tidak pernah memiliki rekam medik, hanya saja, anak saya mengalami patah tulang bengkak di mulut, kemungkinan epek dari cabut gigi di rumah sakit lain sebelum kesini, "ungkap Elsya.

Setelah Dokter di RS swasta menyatakan hasil USG nya dinyatakan ada cairan dilambung, sontak saya sebagai ibu kandungnya langsung menandatangani surat persetujuan operasi dengan harapan anaknya cepat sembuh.

Namun ironisnya, hasil dari USGnya tidak pernah diperlihatkan oleh pihak Rumah Sakit tersebut, malah dipegang oleh pihak rumah sakit, yang katanya untuk kelengkapan adimistrasi, "beber Elsya kepada wartawan.

Setelah terjadinya operasi oleh Dr di RS swasta itu, anak saya mengalami pecah perut, sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit yang ada di bandung. Meski saya harus membayar biaya perjalanan Ambulance Rp,2,5 juta (Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah,), namun pada akhirnya nyawa anak saya tidak bisa tertolong hingga meninggal dunia di Bandung, "kesalnya.

Padahal sebelumnya, Elsya merasa kurang yakin jika anaknya harus dilakukan tindakan operasi di Rymah Sakit itu, pasalnya, "yang akan melakukan tindakan operasinya bukan Dokter sepesialis bedah, melainkan Dokter umum,Karena, dokter ahli sepesialis bedah sedang cuti, "ujar salah satu perawat disana, "ungkap Elsya.

Dari situ saya tidak ada pilihan lain, karena waktunya mepet anak saya harus segera diselamatkan, saya gak kepikiran Digestive ikut prosedur medis yang dilakukan oleh pasien, dimana pasien mencari pendapat dari dokter lain untuk mengkonfirmasi atau menyangkal diagnosis awal atau pendapat lain ( second opinion ).

Intinya gak mungkin dibawa ke bandung karena anak saya sudah dirawat selama lima hari disini hasilnya ketahuan setelah USG, "bebernya.

Kalau saya mencabut untuk tidak di operasi pasti ribet, karena harus mengulang dari awal, jika penanganannya di rumah sakit yang lain, "herannya.

Hanya tindakan operasilah anak saya bisa diselamatkan dan mereka ( perawat Red ) menunjuk dr T " dan tanpa pikir panjang saya pun tandatangani, ko ternyata ini operasi besar dan yang menanganinya dr Umum.

Sebelumnya di depan ruang operasi saya sempat menanyakan ini operasi apa dok," dan kata dokter, ini harus dilakukan tindakan operasi di perutnya yang nantinya akan kelihatan. Saya pun menanyakan kembali kepada dokter, kenapa gak di CT scan dulu," dokter menjawab tidak perlu karena sudah di USG, "ucap Elsya.

Jadi setelah yakin melihat hasil dari USG, kita bisa mengambil tindakan kata dokter T, karena di prediksi ada cairan dilambung dan itu biasanya dari usus buntu atau usus bocor,Kata Elsya sembari menirukan bahasa dokter T.

Tetapi berdasarkan pengalaman waktu suami saya mau operasi di jakarta dulu, pihak rumah sakit melakukan CT scan, Second Opinion sebelum bedah, ini malah tidak melalui prosedur, sehingga kondisi anak saya memilukan, dari bekas bedah keluar cairan darah seperti mau pecah.

Setelah beres operasi anak saya mengalami kesakitan yang luar biasa, sampai kedua tangan dan kakinya di ikat supaya tidak berontak.

Selang beberpa hari kemudian,Elsya ibu korban memberikan kabar melalui chat WA kepada awak media, bahwa anaknya telah meninggal dunia pada pukul 17.15 WIB, dan sekarang lagi dalam perjalanan di kapal menggunakan mobil Ambulance menuju ke rumah duka di Lampung.

Saat awak media mengkonfirmasi pihak RS swasta tersebut, melalui Humas, benarkah pihak RS telah melakukan tindakan operasi terhadap pasien autis hingga mengakibatkan kebocoran di perut, "Staf humas RS pun membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan tindakan operasi terhadap pasien yang bernama Rizki,dan pihaknya sudah melakukan tindakan operasi sesuai dengan standar SOP.

Lalu, Saat awak media minta dipertemukan dengan dokter T yang melakukan tindakan operasi terhadap pasien tersebut, "namun ia seolah menolaknya.Dan satu lagi, Kami minta disinkronkan data hasil diagnosanya dengan hasil Screening pihak RS di Bandung, yang menurut pengakuan ibu korban hasilnya negatif," namun pihak humas RS swasta tersebut tidak bisa menjelaskan dengan rinci hasil diagnosanya dengan hasil Screening dari RS di Bandung.

 (Bayu)

Post a Comment

أحدث أقدم