Dadu Birokrasi Tasikmalaya: Kursi Panas Sekda Yang Mendadak Dingin

*Dadu Birokrasi Tasikmalaya: Kursi Panas Sekda yang Mendadak Dingin*

TASIKMALAYA, (kabardesanews.com) - Tahun baru 2026 di Kabupaten Tasikmalaya tidak hanya dibuka dengan sisa kembang api, melainkan dengan "ledakan" di pucuk pimpinan birokrasi. Selasa pagi (6/1/26), Ruang Op Room Setda menjadi saksi bisu saat Bupati Cecep Nurul Yakin kembali mengocok dadu jabatan, melantik 24 pejabat eselon II, III, dan IV dalam sebuah ritual yang disebutnya sebagai penyegaran.

Namun, di balik barisan jas rapi para terlantik, aroma politik tercium lebih tajam daripada parfum ruangan. Kejutan paling menyengat adalah tumbangnya sang dirigen birokrasi, Dr. H. Mohammad Zen. Sosok yang selama ini memegang kendali sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) kini dipaksa "turun minum", digeser ke posisi Staf Ahli Bupati Bidang Perekonomian dan Pembangunan. 

*Strategi Parkir atau Amputasi Politik?*
Langkah Bupati Cecep "memarkir" Mohammad Zen di kursi Staf Ahli memicu spekulasi liar. Kursi Sekda,posisi tertinggi ASN yang menjadi otak anggaran dan pengendali mesin pemerintahan,kini dibiarkan kosong sejanak dan tersiar kabar diisi oleh Roni Akhmad Sahroni sebagai Pelaksana Harian (Plh).
Kosongnya posisi definitif Sekda di tengah tahun anggaran baru ibarat menerbangkan pesawat tanpa kopilot. Publik bertanya-tanya: Apakah ini sebuah kebutuhan organisasi, ataukah strategi "pembersihan" untuk merapatkan barisan menjelang tahun politik yang krusial?

Gilang Ferdian,salah satu Pemuda Pelopor Kabupaten Tasikmalaya yang juga pemerhati sosial dan kebijakan pemerintah, memberikan catatan pedas saat dihubungi Kabar desa melalui sambungan telepon,mengatakan :
> "Publik sah-sah saja curiga. Mutasi ini dibalut jargon penyegaran, tapi aromanya seperti upaya merapikan barisan. Menariknya, alasan 'kejenuhan' baru muncul sekarang setelah para pejabat itu duduk 8 hingga 10 tahun. Kenapa satu dekade berlalu, baru hari ini dianggap masalah?"

*Jargon Klasik di Tengah Jalan Berlubang*
Bupati Cecep berdalih bahwa mutasi adalah keniscayaan agar pejabat tidak jenuh. Ia menegaskan bahwa rakyat menunggu kerja konkret, terutama pada sektor infrastruktur dan ketahanan pangan.
Namun, pernyataan ini bak kaset lama yang diputar ulang. Bagi warga Tasikmalaya, jargon "infrastruktur" seringkali hanya berarti perbaikan jalan kilat menjelang musim tertentu, sementara "ketahanan pangan" kerap terjebak dalam seremoni rapat di hotel berbintang tanpa dampak nyata pada harga beras di pasar.
Birokrasi yang Sibuk Bermain "Kursi Musik"

Pelantikan kali ini mencakup lintas jenjang, dari pimpinan tinggi pratama hingga pengawas. Namun, jika rotasi hanya sekadar memindahkan nama dari satu meja ke meja lain tanpa evaluasi kinerja yang transparan, maka agenda ini tak lebih dari drama tahunan.
Kini, perhatian tertuju pada kursi kosong yang ditinggalkan Zen. Siapa yang akan dipilih menjadi Sekda definitif nanti? Apakah sosok yang benar-benar kompeten menjaga ritme pembangunan, atau sekadar figur yang pandai menjaga ritme kekuasaan sang bupati?
Sementara para elite sibuk mengatur posisi dalam permainan "kursi musik" birokrasi ini, rakyat Tasikmalaya masih tetap menjadi penonton di luar ruangan, menunggu apakah perubahan wajah di kursi jabatan akan benar-benar mengubah nasib jalan yang rusak dan pelayanan yang di rasakan sejumlah masyarakat masih berbelit.

Sampai berita ini di tayang, Redaksi belum san segera melakukan konfirmasi kepada para pihak terkait, guna kelengkapan berita yang berimbang untuk memenuhi unsur kode etik jurnalis

(Red/G)

Post a Comment

أحدث أقدم