*Refleksi keteladanan dan sejarah pejuangan pangeran Diponegoro yang wafat pada 8 Januari*
Kabar Sejarah, Special Redaksi Kabardesanews.com
Tepat hari ini, 8 Januari, kita memperingati hari wafatnya Pangeran Diponegoro pada tahun 1855 di Makassar.
Beliau bukan sekadar pemimpin perang, melainkan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan penjajahan yang merusak tatanan moral serta sosial bangsa.
Berikut adalah refleksi atas sejarah perjuangan dan keteladanan yang bisa kita petik dari sosok Sang Pangeran:
1. Perjuangan Berlandaskan Prinsip dan Moral
Perang Jawa (1825–1830) tidak dipicu oleh ambisi kekuasaan pribadi, melainkan oleh keresahan Pangeran Diponegoro melihat penderitaan rakyat akibat pajak yang mencekik dan campur tangan Belanda yang merusak adat istiadat keraton.
* Refleksi: Beliau mengajarkan bahwa perjuangan yang paling kuat adalah perjuangan yang memiliki landasan moral dan spiritual yang kokoh. Bergerak bukan karena ego, tapi karena panggilan nurani untuk membela kaum yang lemah.
2. Keberanian Menghadapi Pilihan Sulit
Pangeran Diponegoro adalah seorang bangsawan yang memiliki kehidupan nyaman di Tegalrejo. Namun, beliau memilih untuk meninggalkan kemapanan tersebut demi memimpin rakyat di garis depan. Beliau lebih memilih hidup di gua-gua dan hutan daripada tunduk pada kebijakan yang merugikan rakyat.
* Refleksi: Keteladanan ini mengingatkan kita tentang pentingnya integritas. Kadang, memegang teguh kebenaran mengharuskan kita keluar dari zona nyaman.
3. Kepemimpinan yang Inklusif
Meskipun beliau adalah seorang pangeran, pasukannya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat: ulama, petani, hingga bangsawan lainnya. Beliau mampu menyatukan elemen-elemen yang berbeda di bawah satu visi besar.
* Refleksi: Dalam konteks modern, ini adalah pelajaran tentang kolaborasi. Perubahan besar hanya bisa dicapai jika kita mampu merangkul berbagai pihak dan bekerja sama menuju tujuan yang sama.
4. Keteguhan di Tengah Pengkhianatan
Sejarah mencatat bahwa Pangeran Diponegoro ditangkap melalui tipu muslihat dalam sebuah perundingan damai di Magelang. Meskipun dikhianati dan kemudian diasingkan hingga wafat di Makassar, semangatnya tidak pernah padam.
* Refleksi: Kekalahan secara fisik (penangkapan) bukanlah kekalahan ideologi. Warisan perjuangannya justru menjadi inspirasi bagi generasi pejuang kemerdekaan berikutnya di abad ke-20.
Makna Wafatnya di Pengasingan
Wafatnya beliau di Makassar pada 8 Januari 1855, jauh dari tanah kelahirannya, menunjukkan pengorbanan total seorang pejuang. Beliau membayar harga kemerdekaan dengan kebebasan pribadinya.
Hidup dan mati ada dalam genggaman Allah. Takdir adalah kepastian, tapi perjuangan adalah pilihan.
Bagaimana kita bisa menerapkan nilai ini sekarang?
Di era sekarang, "Perang Jawa" kita mungkin bukan lagi melawan penjajah fisik, melainkan melawan korupsi, ketidakadilan sosial, atau kebodohan. Semangat Diponegoro adalah pengingat agar kita tetap memiliki "nyali" untuk menyuarakan kebenaran.
Penulis : Gilang
Editor : Redaksi
Sumber : berbagai Literasi dan Pustaka Pribadi