Bunga Pengabdian Tanah Galuh: Menjemput Cahaya Kartini di Setda Ciamis

Bunga Pengabdian di Tanah Galuh: Menjemput Cahaya Hari Kartini di Setda Ciamis

CIAMIS, KabarDesaNews.Com  _ Di bawah langit Selasa yang bening (21/4/2026), halaman Sekretariat Daerah Kabupaten Ciamis tidak sekadar menjadi saksi bisu rutinitas birokrasi. Pagi itu, semilir angin membawa aroma penghormatan yang berbeda. Peringatan Hari Kartini tidak dirayakan dengan kemewahan yang fana, melainkan dengan sebuah refleksi mendalam tentang jejak langkah perempuan dalam membangun peradaban di Tatar Galuh.
### **Menelusuri Jejak Sang Pembebas**
Lebih dari seabad silam, dari balik tembok pingitan di Jepara, Raden Ajeng Kartini menuliskan kegelisahannya melalui surat-surat yang melintasi samudera. Ia bermimpi tentang fajar pendidikan bagi kaumnya, tentang tangan-tangan perempuan yang tidak hanya lihai menumbuk padi, tetapi juga tangguh memegang pena dan kebijakan.
Hari ini, di Ciamis, mimpi itu bukan lagi sekadar tulisan di atas kertas kusam. Ia menjelma menjadi derap langkah para perempuan aparatur sipil negara yang mengisi relung-relung pembangunan daerah.

Simbolisme Empat Bunga Pengabdian

Momen haru menyeruak ketika barisan apel terbelah, memberi jalan bagi empat sosok perempuan senior untuk melangkah ke depan. Mereka bukan sekadar pegawai; mereka adalah personifikasi dari ketekunan yang telah teruji oleh waktu.

Sebagai bentuk takzim, sekuntum bunga disematkan kepada mereka,sebuah simbol sederhana namun sarat makna:
 
Bunga itu adalah rasa terima kasih atas tahun-tahun yang dihabiskan demi melayani masyarakat.

 Bunga itu adalah pengakuan, bahwa di tangan perempuan, roda pemerintahan berputar dengan ketelitian dan empati.

"Dedikasi mereka adalah teladan yang nyata." "Semangat pengabdian tanpa pamrih ini adalah bentuk modern dari api perjuangan Kartini yang tak pernah padam di lingkungan Setda Ciamis," ujar Asisten Administrasi Umum, Wawan Ruhiyat, dengan nada yang bergetar penuh apresiasi.

Doa untuk Cahaya yang Terus Berpijar

Acara puncaknya bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah doa bersama yang mengetuk langit. Harapan dipanjatkan agar para perempuan di lingkungan Setda Ciamis senantiasa dikaruniai kekuatan fisik dan kejernihan pikiran dalam mengemban amanah pelayanan publik.

Peringatan ini menjadi pengingat bagi seluruh peserta apel bahwa inklusivitas bukan sekadar jargon politik, melainkan sebuah keharusan.Semangat Kartini bukan lagi soal kain kebaya atau sanggul yang tertata rapi, melainkan tentang **kebebasan untuk berkarya, hak untuk bersuara, dan kesempatan untuk memimpin.**

Di Ciamis, api Kartini dipastikan tetap menyala. Bukan untuk membakar, melainkan untuk menjadi pelita yang menerangi jalan menuju pemerintahan yang lebih berkeadilan dan penuh kasih.

Reporter :
**( Gilang Ferdian )**

Post a Comment

أحدث أقدم